Tortikolis Spasmodik, Penyakit Spontan Datang





SURYA.co.id| Surabaya. Belum banyak masyarakat yang mengetahui penyakit Tortikolis Spasmodik. Belum banyak pula dokter spesialis yang mendalami penyakit ini.

Mengapa demikian, dokter spesialis bedah saraf, dr M. Sofyanto Sp BS mengatakan, selain karena sedikit yang terkena penyakit ini, maka sedikit juga dokter spesialis yang berpengalaman dalam menangani penyakit ini.

Penyakit ini merupakan penyakit yang terjadi karena saraf nomor 11 di batang otak terjepit oleh pembuluh darah/mikro dan ini terjadi secara spontan.

"Akibatnya leher menoleh satu sisi karena otot2 berkontraksi kuat dengan spontan di satu sisi," terangnya ketika ditemui di National Hospital, Minggu (9/8).

Hingga saat ini, dokter spesialis bedah saraf belum mengetahui penyebab pasti penyakit ini.

Dari pengamatan wartawan Surya melalui video dokumentasi, penyakit ini memang menyebabkan leher menoleh pada satu sisi saja, dan apabila pasien yang menderita penyakit ini menoleh ke sisi berlawanan tidak akan bisa dilakukan.

"Penyebabnya itu tadi yang saya sebutkan, semakin pasien ini melawan untuk menoleh ke arah berlawanan semakin terasa sakitnya. Bahkan sampai sesak nafas dan tidak bisa tidur," imbuhnya.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini menjelaskan sesak nafas yang terjadi karena penekanan yang dilakukan oleh pasien karena berusaha mengembalikan kepala itu ke posisi awal atau berlawanan.

Penanganan untuk penyakit ini ialah dengan jalan operasi untuk membebaskan saraf di batang otak yang terjepit karena penekanan. Yakni dengan penanganan metode Micro Vascular Decompression (MVD).

Metode ini menggunakan tehnologi Microsurgery pada microscope khusus.

"Jadi cuma butuh lubang sebesar 2 centimeter atau paling kecil 1 centimeter di belakang telinga, trus dipantau melalui monitor 3D dan langsung menjangkau saraf otak yang terjepit itu," paparnya sembari menunjukkan proses operasi.

Sebelum dioperasi pasien terlebih dahulu melalui tahap analisis CT scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Operasi ini guna untuk memberi skat atau batas dari saraf yang terjepit itu tadi.

Skat yang digunakan ialah serabut teflon.

"Metode ini sudah ada sejak lama, dan terus dikembangkan di Indonesia untuk menangani penyakit seperti ini," terangnya yang juga merupakan anggota dari Brain&Spain ini.

Selain itu, tak menutup kemungkinan pasien akan mengalami penyakit ini kembali.

Tapi, dikatakan Dr Sofyan, hanya sekitar 10 persen saja.

"Delapan puluh persen bisa kembali normal. Jadi karena penyakit ini hanya menoleh satu sisi saja, setelah dipisah saraf tadi sudah kembali normal. Dan karena belum banyak yang berpengalaman, jadi operasinya juga tergantung dari yang mengoperasi," ungkapnya yang mempelajari metode ini di Jepang.

Tortikolis Spasmodik ini kerap menyerang diusia 40 tahun. Namun, usia muda juga bisa terkena penyakit yang spontan terjadi ini.

Oleh karena itu, ia menyarankan apabila terjadi serangan mendadak seperti gejala dari penyakit ini, harus segera di bawa ke dokter.

Ia mengatakan, akan menganalisa terlebih dahulu. Apabila terus dibiarkan, akan membuat pasien tersiksa.







Gallery